Jumat, 24 Oktober 2025
Suka Duka Menjadi Crafter
Rabu, 22 Oktober 2025
Forgiveness Journal
Dulu sekali aku berpikir, ketika ada orang yang berbuat jahat kepadaku, maka orang itu harus mendapat balasan dari Allah. Untuk hal-hal yang membuat traumatis, aku merasa susah untuk memaafkan. Namun seiring bertambahnya usia fan pengalaman, aku menyadari bahwa tidak memaafkan itu ternyata hanya menyakiti diri sendiri. Memaafkan itu bukan untuk orang yang berbuat dholim pada kita, tapi justru untuk diri kita sendiri. Karena dengan tidak memaafkan, kita akan menjadi dholim kepada diri kita, membiarkan beban itu kita bawa setia saat. Beban yang akan membuat kita lelah dan akhirnya merugikan diri sendiri.
Dengan pemikiran itu, kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa aku adalah orang yang selalu ingin berbuat baik dan tidak mau menyakiti orang lain. Lantas kenapa ketika ada orang yang berbuat jahat kepadaku, aku malah menyakiti diriku sendiri dengan tidak memaafkannya? Kasihan sekali diri ini, jika sudah disakiti orang lain, ditambah dengan disakiti oleh diri sendiri.
Disinilah perlunya kita belajar mencintai diri dengan memaafkan orang lain. Dengan memaafkan, kita melepaskan beban berat dalam diri.
Ketika kita mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, biasanya kita akan melihatnya dari sisi negatifnya. Padahal sesungguhnya jika kita melihat dari sisi positifnya, rasa sakit yang kita alami dari hal tersebut justru akan membuat kita merasa membutuhkan Allah. Kita akan dengan mudah untuk khusyuk berdoa kepada Allah bahkan hingga menangis tersedu. Berbeda dengan saat kita sedang dalam kondisi senang, mungkin berdoanya tidak sekhusyuk saat sedang sedih. Jadi, apakah rasa sakit namanya jika rasa sakit itu justru semakin mendekatkan kita pada Allah?
Memaafkan memang bukan sesuatu yang mudah. Mungkin butuh waktu bertahun lamanya.
Tapi efek memaafkan itu menjadi penyembuh bagi segala penyakit hati dan juga bahkan fisik.
Memaafkan juga bukan berarti memberikan persetujuan atas kesalahan orang lain, tapi membebaskan hati dari beban emosional yang meracuni pikiran dan hati.
Dan sebagai orang yang beriman, memaafkan adalah sedekah terbaik. Allah sungguh sangat adil. Walaupun manusia diperbolehkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan yang serupa, namun Allah lebih menyukai orang yang mau memaafkan orang lain.
Semoga kita termasuk orang-orang yang suka memaafkan, baik diri dan orang lain.
QS Asy Syu'ara ayat 40:
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim."
Kamis, 02 Oktober 2025
Kisah Para Sahabat: Zubair bin Awwam
Cara mendidik anak sejak dini akan menentukan bagaimana karakter anak saat dewasa. Pendidikan anak-anak zaman sekarang kecenderungannya permisif sehingga melahirkan generasi strawberry yang punya mental lemah dan mudah rapuh.
Sangat berbeda dengan pola asuh di zaman Rasulullah yang menghasilkan generasintangguh sejak dini.
Anak-anak pada masa 1-10 H adalah anak-anak istimewa yang dibesarkan saat Rasulullah masih hidup bersama para sahabat yang keislamannya tak perlu diragukan lagi. Siapa sajakah dan bagaimana hasilnya pendidikan yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat?
Salah satunya adalah Abdullah bin Zubair bin Al Awwam, bayi pertama yang lahir pada masa hijrahnya kaum Muhajirin ke Madinah dari pasangan Zubair bin Al Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Saat itu, kaum yang tidak suka terhadap ummat Islam menebarkan issue bahwa perempuan-perempuan Muhajirin adalah perempuan mandul. Padahal saat itu sesungguhnya Asma sedang hamil muda namun masih bersemangat turut hijrah menempuh jarak yang demikian jauh. Dia juga yang membantu hijrahnya Rasulullah dan Abu Bakar dengan bolak balik mengantarkan makanan dari Mekkah ke Gua Tsur. Maka ketika Abdullah lahir, issue yang sempat dihembuskan pun terpatahkan dengan sendirinya.
Sejak kecil Abdullah tumbuh menjadi pemuda yang pemberani dan disayangi oleh Rasulullah. Dikisahkan saat itu anak-anak kecil sering kali takut jika melihat Umar bin Khattab. Ketika Abdullah dan teman-temannya sedang bermain, Umar melintas, maka berlarianlah anak-anak itu pulang ke rumah kecuali Abdullah. Umar pun heran dan bertanya, *Mengapa kamu tidak ikut lari?" Abdullah pun menjawab, mengapa aku harus lari? Aku baru selesai berolah raga dan sekarang sedang belajar." Umar pun kagum dengan keberanian dan kecerdasan Abdullah.
Sebagaimana halnya dengan ayahnya, Abdullah sangat pandai dalam berkuda, lihai dalam menggunakan pedang, dan menguasai puluhan bahasa. Kelihaiannya dalam menggunakan pedang adalah berjenis pedang panjang yang saat itu sangat sedikit yang menguasainya. Bahkan saking dekatnya ia dengan pedang sejak lahir, kata pertama yang bisa ia ucapkan bukan ummi atau abi tapi pedang.
Terkait puluhan bahasa yang dikuasai, ayahnya adalah seorang sahabat yang selalu turut serta dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah. Karena itu, beliau memiliki ribuan budak yang berasal dari ghonimmah. Para budak itu berasal dari berbagai wilayah sehingga memiliki bahasa yang berbeda. Bukan mereka yang harus menyesuaikan dengan bahasa tuannya, namun Zubair lah yang mempelajari bahasa mereka bahkan menguasai dialeknya. Kemampuan berbahasa Zubair menurun kepada anaknya, Abdullah. Bahkan Abdullah ketika dewasa menjadi seorang public speaking yang handal. Saat ia berbicara, maka orang-orang akan terpesona dengan tutur katanya. Kemampuan ini sangat penting dalam menyusun strategi. Seorang diplomat yang mampu membaca keadaan. Kelak dia juga menjadi salah satu khalifah setelah Yazid bin Muawiyah.
Demikianlah hasil didikan para sahabat dan sahabiyah pada masa itu.
Senin, 29 September 2025
Literasi, Mulai dari Mana?
Ketika mendengar kata literasi, sebagian besar orang langsung membayangkan kemampuan baca tulis. Padahal, literasi jauh lebih luas dari sekadar mengeja huruf atau menulis kata. Literasi mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, literasi baca tulis tetap menjadi fondasi utama. Tanpa kecakapan membaca dan menulis yang baik, literasi lain, seperti literasi numerasi, sains, digital, bahkan finansial, akan sulit berkembang.
Sayangnya, fenomena anak yang hanya bisa membaca tanpa memahami isi bacaan semakin banyak terjadi. Anak mampu melafalkan kata demi kata, tetapi gagal menangkap pesan yang ingin disampaikan teks. Ini tentu berbahaya, karena tujuan utama membaca bukanlah sekadar lancar menyuarakan huruf, melainkan memahami makna, lalu mampu mengaitkannya dengan pengalaman hidup.
Di sinilah peran orang tua dan pendidik menjadi kunci. Banyak orang tua masih terjebak pada ambisi semu: ingin anak cepat bisa membaca, lalu memasukkannya ke bimbingan belajar. Anak memang cepat mengeja, tetapi tidak tumbuh kecintaan terhadap membaca. Stimulasi yang tepat, penuh kesabaran, dan menyenangkan jauh lebih berharga daripada sekadar kecepatan.
Minimnya buku di rumah pun bukan alasan. Bahkan satu buku anak bisa digunakan berkali-kali dengan pendekatan kreatif. Salah satunya melalui project based book. Misalnya, anak usia PAUD membaca buku tentang hewan, lalu membuat topeng kertas berbentuk hewan favoritnya. Anak SD membaca cerita tentang tumbuhan, kemudian menanam biji kacang dan mencatat pertumbuhannya. Anak SMP membaca novel petualangan, lalu menuliskan ulang akhir cerita sesuai imajinasinya. Semakin tinggi usia, proyek bisa semakin kompleks: resensi buku, pembuatan komik, hingga diskusi kritis tentang isu dalam bacaan.
Pendekatan seperti ini tidak hanya melatih pemahaman membaca, tetapi juga menumbuhkan kreativitas, rasa ingin tahu, dan keterampilan berpikir kritis. Anak akan merasakan bahwa membaca bukan beban, melainkan jendela ke dunia yang lebih luas.
Jadi, masih maukah kita membiarkan anak-anak hanya sekadar bisa membaca tanpa benar-benar mengenal literasi? Jawabannya ada di tangan kita. Mari mulai dari rumah, dengan langkah sederhana, konsisten, dan penuh cinta. Jangan lupa teladan orang tua adalah paling utama.
***
Sabtu, 27 September 2025
Kapan Sebaiknya Memulai Gaya Hidup Go Green
Seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Dari mana sih kita mulai bergaya hidup go green?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata tidak punya satu jawaban yang pasti. Setiap orang tentu berbeda-beda titik mulainya. Ada yang berangkat dari kebiasaan sehari-hari, ada pula yang tergerak karena melihat lingkungan, bahkan ada yang termotivasi karena passion atau hobi tertentu. Semua sah, karena memang hidup kita unik, begitu pula cara kita berkontribusi pada bumi.
Kalau saya pribadi, perjalanan go green dimulai sejak kecil. Waktu itu belum ada istilah go green atau upcycle. Saya hanya terbiasa mengumpulkan barang-barang tak terpakai untuk kemudian dimanfaatkan kembali. Intinya, saya senang membuat sesuatu dari apa yang ada. Semakin besar, kebiasaan itu makin menjadi-jadi, sampai orang rumah menyebut saya seperti “pemulung” karena apapun saya pungut. Rumah pun penuh dengan barang-barang rongsokan yang menunggu ide baru.
Sekitar tahun 2016 barulah saya mengenal istilah go green secara lebih serius. Sejak itu, saya mulai memilah sampah, membuat kompos dari sisa organik—karena saya pecinta buah dan sayur, jumlahnya lumayan banyak—dan semakin menikmati berbagai kreasi dari barang bekas. Rasanya luar biasa bahagia ketika sesuatu yang awalnya dianggap sampah bisa menjelma menjadi barang yang bernilai dan bermanfaat. Kebun kecil saya pun semakin hidup, seolah menguatkan darah petani yang memang sudah mengalir dalam tubuh saya.
Jadi, ketika teman saya tadi bertanya, saya hanya bisa menjawab: “Mulailah dari yang bisa kamu lakukan. Tidak perlu langsung besar. Mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang.” Jika memaksakan diri untuk bergerak terlalu cepat, biasanya justru membuat tertekan. Kuncinya adalah lakukan dengan bahagia, sesuai dengan passion masing-masing, sampai menemukan klik yang tepat dalam perjalanan go green.
Saya juga berusaha menjaga semangat bergoreen dengan mengikuti komunitas yang terkait, karena berjalan sendiri itu melelahkan. Lebih seru kalau kita melakukan. bersama-sama. Saya berusaha untuk terus berkarya setiap hari, dalam bentuk apapun. Tidak harus besar, yang penting konsisten. Karena bagi saya, go green bukan sekadar aksi, tapi cara menjaga semangat hidup.






