Rabu, 29 Oktober 2014

FOKUS

Fokus!
Pusatkan perhatianmu, maka seluruh energimu akan tercurah pada apa yang sedang menjadi fokus perhatianmu.

Ketika orang sedang jatuh cinta, maka pikirannya akan terfokus pada sang kekasih hati. Apapun yang ada dalam pikirannya akan terpaut dengan kekasih hatinya. Makan ingat dia, lagi jalan semua orang jadi mirip dia, mau tidur wajahnya ada di plafon, dst. Itu semua karena pikirannya terfokus. Maka untuk mengimbanginya dia harus mengalihkan fokusnya dengan kegiatan lain agar pikirannya tak hanya tertuju pada satu hal saja. Apalagi jika ternyata cinta ditolak atau diputusin sama si dia, kan nyesek.

Fokus sangat bermanfaat. Seperti halnya jatuh cinta di atas, kita juga bisa fokus pada cinta pada Allah. maka semua perbuatan kita akan senantiasa dikaitkan dengan Allah. Seandainya mau melenceng dari garispun, akan malu dengan Kekasih hati yang senantiasa mengawasi.
Fokus dalam bekerja menyebabkan kinerja menjadi luar biasa. Fokus dalam belajar, otomatis membuat nilai menjadi fantastis, fokus dalam berkreasi membuat kreatifitas semakin beragam dan menarik. Fokus dalam berbisnis, keuntungan semakin tak pernah habis. Fokus beribadah, iman semakin terasah.
Bayangkan jika hidup kita tak punya fokus. Sebanyak apapun kemampuan yang kita miliki, sebanyak apapun kegiatan menanti, semuanya hanya akan berjalan seperti robot, tanpa semangat, tanpa bobot. Hampa.

Yuuk, berlatih agar bisa fokus terhadap segala sesuatu pada tempatnya supaya hidup kita maksimal dan penuh kualitas.

Selasa, 16 September 2014

Sarapan Telor Bebek Mentah



Pagi-pagi, disempetin ngangetin sayuran dan lauk sisa semalem. Demi penghematan, dan juga kesehatan, aku lebih suka membawa bekal makan dari rumah. Porsi makanku tak banyak. Cukup pake tempat bekal kecil sudah muat untuk nasi, oseng daun pepaya-teri, oseng kikil dan telor asin. Terbayang nikmatnya.
Turun kereta di stasiun Juanda, aku sengaja berjalan kaki menuju kantor karena waktu masih cukup. Hitung-hitung sambil olah raga.
Sampai kantor, perut rasanya lapar betul. Cuci tangan, bikin teh madu, rutinitas ku setiap pagi. Lalu buka bekal sarapan.
Aku makan dengan lahab sampai separuh nasi. Lalu kubukalah telor asin special itu menggunakan sendok. Tok tok pyar….. alamak, telor asin itu ternyata telor bebek mentah. Putih telor tumpah ke nasi. Hiks, nasi yang porsinya udah mini jadi ga bisa dimakan. Lanjut aja makan sayur papaya pahit dan kikilnya sambil mikir, ini telor mau diapain ya enaknya? 

Ada yang mau kasih usul? ^_^

Jumat, 12 September 2014

Rindu Itu



Di buaian rindu yang mengalun sendu
Aku bertapa dan membersihkan diriku
Rapuh
Bak kayu lapuk berumur ratusan tahun
Aku perlu berlindung, dari angin ataupun tangan-tangan jahil yang linglung
nun jauh di perantauan
Hanya bisa melihat mereka
Dalam mimpi atau dunia maya
aku sungguh rindu
Tapi rinduku pada Nya lebih menguat
Aku di belantara senyap
Berderit-derit ngilu suara hampa dibawah sadarku
Angin seperantauan mengusap lembut pipiku
Mengalirkan energi rindu
Tunggulah, aku
Aku pasti kembali
Nanti, jika aku telah kokoh berdiri
Jika hati tak lagi terbebani
Jika rahasia tak lagi menjadi jeruji
Aku akan kembali
Tak lama lagi
***
Jakarta, 21 April 2014

Senin, 11 Agustus 2014

Mengapa Harus Bunuh Diri?


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS 57:20)
Membaca berita meninggalnya aktor kawakan Hollywood, Robbin William, membuatku teringat sebuah ayat Al Qur’an yang kubaca pagi ini. Robbin diindikasikan meninggal bunuh diri akibat depresi akut. Padahal ia seorang aktor komedi yang banyak membawa inspirasi, banyak membuat penonton di seluruh dunia tertawa, membuat penonton rileks dari ketegangan yang tengah mendera. Begitulah aktor, tak selalu yang tampak dihadapan penonton adalah kehidupannya yang sesungguhnya. Boleh saja ia aktor komedi yang banyak tertawa, nyatanya hidupnya menderita atau mengalami depresi. Boleh saja di depan layar dia tampak seperti manusia yang paling menderita atau yang paling jahat, nyatanya dia orang sangat bahagia atau memiliki hati seperti malaikat.
Namun, seperti halnya ayat di atas dan juga lagu Godbless di era tahun 80an, dunia ini hanya panggung sandiwara. Namanya juga permainan, sandiwara, pastilah ada sutradara yang telah menyusun jalan cerita secara keseluruhan. Kita semua yang ada di dunia ini hanyalah pelakon sandiwara, harus menerima segala cerita yang telah disiapkan oleh Sang Sutradara Tunggal. Mau ceritanya sedih, gembira, merana, bahagia, lurus saja, rumit, dsb. terserah pada sutradara meskipun jalan cerita itu terkadang tak sesuai dengan harapan para pelakon.  Adakah yang bisa dilakukan oleh pelakon? Tentu saja tetap ada. Jika ia tak setuju dengan jalan cerita ia bisa menyampaikannya pada sutradara yang bisa saja menyetujui masukan dari pelakon jika masukannya sesuai. Tapi bisa saja sutradara akan keukeuh melanjutnya jalan cerita seperti yang dinginkannya. Pada kondisi tersebut, ada yang namanya usaha yang dilakukan oleh pelakon, dan pada saat sutradara menolak masukan, pelakon wajib berserah.
Itulah sesungguhnya kehidupan di dunia ini. Semuanya telah ditentukan oleh Sang Pencipta sebagai Sutradara Tunggal. Dialah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena yang terbaik itu tak selamanya indah. Bukankah jika kita sakit harus minum obat? Dan obat itu biasanya pahit rasanya. Bukankah saat kita bersekolah dan mau naik kelas kita akan menghadapi sebuah ujian yang bermacam-macam? Ada ulangan harian, ujian tulis, ujian lisan, ujian praktik, ujian semester, sampai dengan ujian nasional. Semakin tinggi tingkatannya semakin sulit soalnya. Begitulah halnya dengan manusia, musibah dan penderitaan sesungguhnya bisa saja obat atau ujian untuk meningkatkan derajatnya. Tapi banyak yang tak menyadarinya dan menganggapnya hanya nasib buruk berikut menyesalinya secara berlebihan. Pada saat mengalami musibah atau ujian memang pastilah sangat berat. Tapi sebagai hamba yang beriman dan yakin bahwa kita tak lebih dari pelakon, tetap harus menerima keadaan tersebut. Dan fungsi keluarga, kerabat, saudara, sahabat, pada saat itu akan sangat membantu meringankan beban yang sedang dialami. Dan bahwasannya setelah usainya kehidupan di dunia ini, ada kehidupan lain yang lebih kekal, yakni kehidupan akhirat. Itulah yang lebih patut kita persiapkan.
Jika kita benar-benar meyakini hal tersebut, dan memegang teguh 4 kunci sukses menjadi pelaku sandiwara dunia yakni iman (yakin pada Sang Sutradara), berusaha, doa, dan tawakkal (berserah), In Shaa Allah, selamat dunia akhirat. Aamiin. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang demikian. Tak perlu ada Robbin William jilid 2 ataupun permintaan legalitas bunuh diri oleh Ryan yang notabene sarjana S2 dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
***
Note:
Tulisan ini hanya pemahaman awam penulis yang sedang belajar tentang kehidupan dengan membaca jalan cerita pribadi ataupun kisah lain di sekitarnya.

Minggu, 10 Agustus 2014

Di manakah HAM itu?

Sedih sekali pagi ini membaca berita tentang pelarangan buku-buku Islam dan Salinan Al Quran di Crimea, Rusia.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/salinan-quran-sirah-nabawiyah-muhammad-saw-dilarang-beredar-di-krimea.htm#.U-gXNaPDbgs
Ditambah pula dengan pelarangan Muslim berjanggut dan Muslimah berjilbab untuk naik bus di China.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-berjenggot-muslimah-berjilbab-dilarang-gunakan-bus-umum-di-china.htm#.U-gYeKPDbgs
Lengkap pula dengan kekejaman Israel terhadap Palestina yang terus berlangsung dan tak juga mendapat tanggapan yang layak dari PBB maupun negara-negara besar yang selama ini lantang berteriak tentang kebebasan HAM. Nyatanya tak ada yang namanya HAM itu. HAM tidak berlaku untuk ummat Islam, meskipun ummat Islam banyak tertindas. Sementara itu, label TERORIS hanya pantas disematkan untuk ummat Islam, meskipun pada kenyataannya ajaran Islam sangat jauh dari makna teroris. Islam sesungguhnya itu damai dan indah serta sangat toleran terhadap agama lain. bahkan wajib melindungi ummat agama lain yang tak memusuhi Islam.
Jadi dimanakah keadilan? Media nyata dikuasai kaum yang memusuhi Islam sehingga pemberitaan yang menyudutkan ummat Islam demikian santer ditiupkan, sebaliknya  pemberitaan terhadap pelecehan dan penistaan Islam minim diberitakan.
Kewajiban kita sebagai ummat Islam untuk meluruskan pemberitaan, menampilkan wajah asli Islam yang cinta damai, santun dan senantiasa menebarkan akhlaqul karimah. Karena disitulah esensi Islam yang sesungguhnya.