Fokus!
Pusatkan perhatianmu, maka seluruh energimu akan tercurah pada apa yang sedang menjadi fokus perhatianmu.
Ketika orang sedang jatuh cinta, maka pikirannya akan terfokus pada sang kekasih hati. Apapun yang ada dalam pikirannya akan terpaut dengan kekasih hatinya. Makan ingat dia, lagi jalan semua orang jadi mirip dia, mau tidur wajahnya ada di plafon, dst. Itu semua karena pikirannya terfokus. Maka untuk mengimbanginya dia harus mengalihkan fokusnya dengan kegiatan lain agar pikirannya tak hanya tertuju pada satu hal saja. Apalagi jika ternyata cinta ditolak atau diputusin sama si dia, kan nyesek.
Fokus sangat bermanfaat. Seperti halnya jatuh cinta di atas, kita juga bisa fokus pada cinta pada Allah. maka semua perbuatan kita akan senantiasa dikaitkan dengan Allah. Seandainya mau melenceng dari garispun, akan malu dengan Kekasih hati yang senantiasa mengawasi.
Fokus dalam bekerja menyebabkan kinerja menjadi luar biasa. Fokus dalam belajar, otomatis membuat nilai menjadi fantastis, fokus dalam berkreasi membuat kreatifitas semakin beragam dan menarik. Fokus dalam berbisnis, keuntungan semakin tak pernah habis. Fokus beribadah, iman semakin terasah.
Bayangkan jika hidup kita tak punya fokus. Sebanyak apapun kemampuan yang kita miliki, sebanyak apapun kegiatan menanti, semuanya hanya akan berjalan seperti robot, tanpa semangat, tanpa bobot. Hampa.
Yuuk, berlatih agar bisa fokus terhadap segala sesuatu pada tempatnya supaya hidup kita maksimal dan penuh kualitas.
Rabu, 29 Oktober 2014
Selasa, 16 September 2014
Sarapan Telor Bebek Mentah
Pagi-pagi, disempetin ngangetin sayuran dan lauk sisa
semalem. Demi penghematan, dan juga kesehatan, aku lebih suka membawa bekal
makan dari rumah. Porsi makanku tak banyak. Cukup pake tempat bekal kecil sudah
muat untuk nasi, oseng daun pepaya-teri, oseng kikil dan telor asin. Terbayang
nikmatnya.
Turun kereta di stasiun Juanda, aku sengaja berjalan kaki
menuju kantor karena waktu masih cukup. Hitung-hitung sambil olah raga.
Sampai kantor, perut rasanya lapar betul. Cuci tangan, bikin
teh madu, rutinitas ku setiap pagi. Lalu buka bekal sarapan.
Aku makan dengan lahab sampai separuh nasi. Lalu kubukalah
telor asin special itu menggunakan sendok. Tok tok pyar….. alamak, telor asin
itu ternyata telor bebek mentah. Putih telor tumpah ke nasi. Hiks, nasi yang
porsinya udah mini jadi ga bisa dimakan. Lanjut aja makan sayur papaya pahit
dan kikilnya sambil mikir, ini telor mau diapain ya enaknya?
Jumat, 12 September 2014
Rindu Itu
Di buaian rindu yang
mengalun sendu
Aku bertapa dan
membersihkan diriku
Rapuh
Bak kayu lapuk
berumur ratusan tahun
Aku perlu berlindung,
dari angin ataupun tangan-tangan jahil yang linglung
nun jauh di
perantauan
Hanya bisa melihat
mereka
Dalam mimpi atau dunia
maya
aku sungguh rindu
Tapi rinduku pada Nya
lebih menguat
Aku di belantara
senyap
Berderit-derit ngilu
suara hampa dibawah sadarku
Angin seperantauan
mengusap lembut pipiku
Mengalirkan energi
rindu
Tunggulah, aku
Aku pasti kembali
Nanti, jika aku telah
kokoh berdiri
Jika hati tak lagi
terbebani
Jika rahasia tak lagi
menjadi jeruji
Aku akan kembali
Tak lama lagi
***
Jakarta, 21 April 2014
Senin, 11 Agustus 2014
Mengapa Harus Bunuh Diri?
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan
anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu." (QS 57:20)
Membaca
berita meninggalnya aktor kawakan Hollywood, Robbin William, membuatku teringat
sebuah ayat Al Qur’an yang kubaca pagi ini. Robbin diindikasikan meninggal bunuh
diri akibat depresi akut. Padahal ia seorang aktor komedi yang banyak membawa inspirasi,
banyak membuat penonton di seluruh dunia tertawa, membuat penonton rileks dari
ketegangan yang tengah mendera. Begitulah aktor, tak selalu yang tampak
dihadapan penonton adalah kehidupannya yang sesungguhnya. Boleh saja ia aktor komedi
yang banyak tertawa, nyatanya hidupnya menderita atau mengalami depresi. Boleh
saja di depan layar dia tampak seperti manusia yang paling menderita atau yang
paling jahat, nyatanya dia orang sangat bahagia atau memiliki hati seperti
malaikat.
Namun, seperti
halnya ayat di atas dan juga lagu Godbless di era tahun 80an, dunia ini hanya
panggung sandiwara. Namanya juga permainan, sandiwara, pastilah ada sutradara
yang telah menyusun jalan cerita secara keseluruhan. Kita semua yang ada di
dunia ini hanyalah pelakon sandiwara, harus menerima segala cerita yang telah
disiapkan oleh Sang Sutradara Tunggal. Mau ceritanya sedih, gembira, merana,
bahagia, lurus saja, rumit, dsb. terserah pada sutradara meskipun jalan cerita
itu terkadang tak sesuai dengan harapan para pelakon. Adakah yang bisa dilakukan oleh pelakon? Tentu
saja tetap ada. Jika ia tak setuju dengan jalan cerita ia bisa menyampaikannya
pada sutradara yang bisa saja menyetujui masukan dari pelakon jika masukannya sesuai.
Tapi bisa saja sutradara akan keukeuh
melanjutnya jalan cerita seperti yang dinginkannya. Pada kondisi tersebut, ada
yang namanya usaha yang dilakukan oleh pelakon, dan pada saat sutradara menolak
masukan, pelakon wajib berserah.
Itulah
sesungguhnya kehidupan di dunia ini. Semuanya telah ditentukan oleh Sang
Pencipta sebagai Sutradara Tunggal. Dialah Yang Maha Tahu apa yang terbaik
untuk hamba-Nya. Karena yang terbaik itu tak selamanya indah. Bukankah jika
kita sakit harus minum obat? Dan obat itu biasanya pahit rasanya. Bukankah saat
kita bersekolah dan mau naik kelas kita akan menghadapi sebuah ujian yang
bermacam-macam? Ada ulangan harian, ujian tulis, ujian lisan, ujian praktik,
ujian semester, sampai dengan ujian nasional. Semakin tinggi tingkatannya
semakin sulit soalnya. Begitulah halnya dengan manusia, musibah dan penderitaan
sesungguhnya bisa saja obat atau ujian untuk meningkatkan derajatnya. Tapi
banyak yang tak menyadarinya dan menganggapnya hanya nasib buruk berikut
menyesalinya secara berlebihan. Pada saat mengalami musibah atau ujian memang
pastilah sangat berat. Tapi sebagai hamba yang beriman dan yakin bahwa kita tak
lebih dari pelakon, tetap harus menerima keadaan tersebut. Dan fungsi keluarga,
kerabat, saudara, sahabat, pada saat itu akan sangat membantu meringankan beban
yang sedang dialami. Dan bahwasannya setelah usainya kehidupan di dunia ini,
ada kehidupan lain yang lebih kekal, yakni kehidupan akhirat. Itulah yang lebih
patut kita persiapkan.
Jika kita
benar-benar meyakini hal tersebut, dan memegang teguh 4 kunci sukses menjadi
pelaku sandiwara dunia yakni iman
(yakin pada Sang Sutradara), berusaha,
doa, dan tawakkal (berserah), In Shaa Allah, selamat dunia akhirat. Aamiin. Semoga
kita semua termasuk orang-orang yang demikian. Tak perlu ada Robbin William
jilid 2 ataupun permintaan legalitas bunuh diri oleh Ryan yang notabene sarjana
S2 dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
***
Note:
Tulisan ini
hanya pemahaman awam penulis yang sedang belajar tentang kehidupan dengan
membaca jalan cerita pribadi ataupun kisah lain di sekitarnya.
Minggu, 10 Agustus 2014
Di manakah HAM itu?
Sedih sekali pagi ini membaca berita tentang pelarangan buku-buku Islam dan Salinan Al Quran di Crimea, Rusia.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/salinan-quran-sirah-nabawiyah-muhammad-saw-dilarang-beredar-di-krimea.htm#.U-gXNaPDbgs
Ditambah pula dengan pelarangan Muslim berjanggut dan Muslimah berjilbab untuk naik bus di China.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-berjenggot-muslimah-berjilbab-dilarang-gunakan-bus-umum-di-china.htm#.U-gYeKPDbgs
Lengkap pula dengan kekejaman Israel terhadap Palestina yang terus berlangsung dan tak juga mendapat tanggapan yang layak dari PBB maupun negara-negara besar yang selama ini lantang berteriak tentang kebebasan HAM. Nyatanya tak ada yang namanya HAM itu. HAM tidak berlaku untuk ummat Islam, meskipun ummat Islam banyak tertindas. Sementara itu, label TERORIS hanya pantas disematkan untuk ummat Islam, meskipun pada kenyataannya ajaran Islam sangat jauh dari makna teroris. Islam sesungguhnya itu damai dan indah serta sangat toleran terhadap agama lain. bahkan wajib melindungi ummat agama lain yang tak memusuhi Islam.
Jadi dimanakah keadilan? Media nyata dikuasai kaum yang memusuhi Islam sehingga pemberitaan yang menyudutkan ummat Islam demikian santer ditiupkan, sebaliknya pemberitaan terhadap pelecehan dan penistaan Islam minim diberitakan.
Kewajiban kita sebagai ummat Islam untuk meluruskan pemberitaan, menampilkan wajah asli Islam yang cinta damai, santun dan senantiasa menebarkan akhlaqul karimah. Karena disitulah esensi Islam yang sesungguhnya.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/salinan-quran-sirah-nabawiyah-muhammad-saw-dilarang-beredar-di-krimea.htm#.U-gXNaPDbgs
Ditambah pula dengan pelarangan Muslim berjanggut dan Muslimah berjilbab untuk naik bus di China.
http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/muslim-berjenggot-muslimah-berjilbab-dilarang-gunakan-bus-umum-di-china.htm#.U-gYeKPDbgs
Lengkap pula dengan kekejaman Israel terhadap Palestina yang terus berlangsung dan tak juga mendapat tanggapan yang layak dari PBB maupun negara-negara besar yang selama ini lantang berteriak tentang kebebasan HAM. Nyatanya tak ada yang namanya HAM itu. HAM tidak berlaku untuk ummat Islam, meskipun ummat Islam banyak tertindas. Sementara itu, label TERORIS hanya pantas disematkan untuk ummat Islam, meskipun pada kenyataannya ajaran Islam sangat jauh dari makna teroris. Islam sesungguhnya itu damai dan indah serta sangat toleran terhadap agama lain. bahkan wajib melindungi ummat agama lain yang tak memusuhi Islam.
Jadi dimanakah keadilan? Media nyata dikuasai kaum yang memusuhi Islam sehingga pemberitaan yang menyudutkan ummat Islam demikian santer ditiupkan, sebaliknya pemberitaan terhadap pelecehan dan penistaan Islam minim diberitakan.
Kewajiban kita sebagai ummat Islam untuk meluruskan pemberitaan, menampilkan wajah asli Islam yang cinta damai, santun dan senantiasa menebarkan akhlaqul karimah. Karena disitulah esensi Islam yang sesungguhnya.
Langganan:
Postingan (Atom)